senja beranjak gelap habis hujan…
dia masih terpaku dalam diam…
menikmati aroma tanah dan aspal basah yang selalu disukainya…
cangkir kopi yang ke 2 dan sebatang rokok dalam genggaman cukup untuk saat ini…

kupu2 itu masih disana, di rumpun perdu yg bermandikan sisa hujan…
diam tak bergerak…seakan diletakkan disana untuk menemaninya…
suara suara dalam benaknya terus berteriak…
“berhentilah berpikir tentang itu!” hardik sebuah suara…
“andai saja aku bisa…” suara lain menimpali
“apa yg kau dapat? tidakkah itu semakin menyiksamu?”
“berhentilah!”
“tidak sekarang”
“bodoh!!!…dasar pemimpi!!!”
“terserah..setidaknya aku masih bisa bermimpi dan menikmati kebodohan ini”
“untuk saat ini..”

dihirupnya kopi yang sudah dingin…ada perasaan mual akibat asam lambung yang naik..
dia tak peduli…sebatang lagi saja…
suara suara dalam benaknya masih bergaung…
“kenapa tak kau abaikan saja pikiran itu!”
“aku sedang berusaha…”
“pikirkan2 hal-hal indah yg bisa menghadirkan rasa nyaman…”
“tentang pelangi sehabis hujan…”
“tentang seraut wajah yang menggemaskan…”
“tentang laut …tentang sunset…tentang sebait lagu yang menenangkan…”
“sudahlah…”
“berhentilah menggangguku…”
“aku sudah pernah melewati ini…”
“semuanya akan baik baik saja..walaupun tak lagi sama.”

gerimis kembali turun….malam semakin pekat…
dia selalu menyukai hujan…
perempuan itu menghela napas panjang….
rasanya lelah…benaknya penuh…
ada perasaan ingin muntah…
suara suara itu terus mengganggunya…
menyuruhnya bertahan..
menyuruhnya mengabaikan…melupakan…
mengejeknya…

dia merindukan sosoknya yang dulu…
ketika dia bisa mengendalikan suara suara yang ada di pikirannya…
ketika berbincang tentang hal hal yang remeh terasa mengasyikkan…
ketika cerita mengalir bermakna…merasa dekat…
ketika tawa terbahak apa adanya….
dia kembali ingin muntah…menyumpah…tak seharusnya dia membiarkan kopi itu meracuninya…

gulungan2 asap membentuk bulatan2 sempurna…
batang ke sekian…tatapannya nanar menembus malam…
sudahlah…
saat ini tak perlu banyak kata-kata…
satu pelukan hangat sudah cukup melegakan…

malam semakin pekat…
waktunya pulang…
dia membayangkan harumnya secangkir coklat panas ….
saatnya beranjak…
bibirnya tersenyum getir…
kupu kupu itu masih di sana…diam