Begitulah judul monolog yang malam itu di pentaskan di Teater Salihara…
Berlatar belakang jaman pergerakan, bertutur tentang kisah hidup Surti, seorang perempuan jawa,
yang mengisi kesunyian sepeninggal suaminya dengan membatik.

Suasana setting panggung yang didominasi warna putih, keranda yang tergantung, seolah menjelaskan
rasa sunyi dan kehilangan yang dirasakan Surti.
Lamat – lamat, diiringi bunyi rebab yang menyayat perasaan, Surti mulai bertutur tentang tiga ekor burung
sawunggaling yang sedang di batik-nya diatas kain mori. Burung yang merupakan mahluk cermin, mereka datang dari benua yang terbelah, begitu ingatannya akan cerita neneknya tentang burung itu…

“Dalam belahan itu ada lahar yang tiap pagi mengeras. Lahar jadi cermin.
Burung sawunggaling adalah makhluk cermin. Tiap kali kita memandangnya,
wajah, gerak, dan kata-kata kita dipantulkannya kembali,”

Lakon imajinasi tentang sunyi seorang perempuan, yang lewat cerita burung-burung yang di batiknya di kain mori itu, dia mengenang Jen, suaminya yang seorang aktivis pergerakan.

Surti percaya, tiga ekor sawunggaling yang diberinya nama, Anjani, Baira dan Cawir itu selalu terbang mengelana dari kain mori ketika dia terlelap, dan esoknya bercerita kepadanya tentang banyak hal, dalam imajinya..

tentang suaminya yang senang bermimpi…
tentang wanita lain yang juga dicintai suaminya…
tentang burung-burung mandar yang menyerangnya….

Imaji dan nyata kadang hanya dipisahkan tirai yang tipis, tinggal bagaimana kita memilih waktu
untuk melakonkannya, demikian juga Surti, yang diakhir cerita merelakan kenangan akan suaminya,
dan kembali memeluk kenyataan, digambarkan dengan apik lewat sosok lelaki yang berjalan,
lalu masuk dan menghilang, juga keranda yang tadinya tergantung diam, perlahan terseret.. berlalu…
yang ada hanya gaung kesunyian…..

Akting Ine Febriyanti sendiri mengundang decak kagum…luwes tubuhnya ketika menari menirukan gerakan sawunggaling, juga penghayatan aktingnya ketika menggambarkan persetubuhan terakhir dengan suamina, begitu indah, lalu kepiawaiannya membawakan karakter2 yang lebih dari lima, ya burung-burung, ya lelaki bertopeng, ya surti..hingga ketika ada bias antara satu karakter dengan karakter lainnya , juga logat jawa yang medok diawal penuturan kadang hilang di tengah dialog..menjadi “dimaklumi”
salut untuk Ine, ini tidak sesederhana “gak kebayang kalo gw yang di suruh ngapalin dialog antar karakter yang demikian kompleksnya ;)) juga untuk Sitok Srengenge yang mampu menggubah naskah Goenawan Muhammad menjadi suatu tontonan yang menarik!

foto ngambil dari sini