WARNING: siap2…postingan ini panjaaang 😀

Tuhan selalu bercanda dengan caranya sendiri. berkali kali gw takjub dengan cara tuhan bercanda lewat semesta yang agung.

Harapan adalah doa, begitu yang gw yakini, jadi ketika oleh karena sesuatu hal gw terlambat memesan tiket pertunjukan sendratari MATAH ATI, gw cuma bisa pasrah dan menghibur diri sendiri bahwa emang belum rejeki gw buat nonton pertunjukan yang menurut banyak review merupakan pentas yang penuh “rasa”

Hari terakhir pentas, dan gw masih juga belum dapet tiket, gw pasrah. Tapi, seperti yang berkali kali gw alamin, semesta seolah mendengar dan mencatat harapan gw 🙂 seorang teman baik [GOD bless her, amin] menelpon dan ngajak gw ketemu di TIM buat nonton 😀 THANK’S GOD!!

Jadilah gw ke TIM malam itu, Tuhan belum selesai bercanda, gw ketemu temen gw, dikasih tiket dan kita duduk manis nonton di Kelas 1 dengan view yang keren ke stage, for free!

Memasuki ruang dalam gedung teater jakarta, terasa aura magis dengan semilir wangi dupa yang samar..ah gw suka suasana ini, serasa dilempar kembali ke masa lalu…
seting panggung yang dibuat miring, seperangkat gamelan dan beberapa alat music modern macam senar drum dan terompet, bikin gw excited ngebayangin pementasan ini.

Pentas Matah Ati ini diangkat dari langendriyan, salah satu bentuk kesenian yg khusus dimainkan dikalangan mangkunegaran, tentang kisah cinta Raden Mas Said dengan seorang gadis desa bernama [Rubiyah], dilatar belakangi perjuangan Raden Mas Said melawan penjajah Belanda

Ceritanya sederhana, Rubiyah, seorang gadis desa bermimpi bertemu dengan sang pangeran dan jatuh hati, dia berharap suatu saat nanti bisa menjadi bagian keluarga kerajaan..akan tetapi melihat kenyataan bahwa dia hanya seorang gadis desa, membuatnya menyimpan mimpinya dalam hati. Pada satu ketika kirab kerajaan yang melewati desa matah, tempat tinggal Rubiyah, sang pangeran [Raden Mas Said] melihat seorang gadis cantik, dia pun terpikat tanpa tau sang gadis juga bermimpi tentangnya..

Dalam laku tapa brata-nya, Raden Mas Said bermimpi didatangi dan digoda oleh tiga orang bidadari yang cantik jelita, namun ia tak bergeming. Dalam semedinya dia masuk kedalam satu mimpi dimana dia berjumpa dengan gadis yang pernah diliatnya, mereka memadu kasih dalam mimpi itu.

Dalam salah satu perjalanan pulang dari medan perang, Raden Mas Said melewati desa matah dan terkesima karena melihat ada seorang gadis cantik yang tertidur ketika sedang menonton wayang, dan memancarkan cahaya dari salah satu bagian tubuhnya. Raden Mas Said lalu meninggalkan ikat kepalanya untuk menyelimuti tubuh gadis itu sebagai penanda.

Waktu berlalu, Raden Mas Said beserta bala tentara kerajaan dan rakyat jelata bahu membahu melawan penjajah, semboyannya yang terkenal yaitu :

“ TIJI TIBEH, MATI SIJI MATI KABEH. MUKTI SIJI MUKTI KABEH”
[tiji tibeh, mati satu mati semua, hidup satu, hidup semua]

Sebagai rakyat yang ingin berbakti pada negerinya, Rubiyah berangkat ke istana bergabung bersama para laskar putri yang gagah berani, diapun diangkat sebagai pemimpin laskar putri, dianugerahi pusaka dan diberi gelar “Matah Ati”. Bahu membahu dengan Raden Mas Said, ia ikut berperang, rela bersabung nyawa demi negeri yang dicintainya.

Singkat cerita, perang besar melawan penjajah pun pecah, dengan keyakinan, semangat gagah berani dan kehendak semesta, pasukan Raden Mas Said berhasil memenangkan pertempuran itu.

Perayaan kemenangan pun digelar sekaligus menyatukan cinta keduanya..perkawinan agung pun di gelar, Rubiyah sang gadis desa pun berhasil meraih mimpinya, disunting Raden Mas Said, menjadi bagian dari keluarga kerajaan dianugerahi gelar Bendoro Raden Ayu Matah Ati, dan menjadi cikal bakal Dinasti Mangkunegaran.

Salut dan terima kasih untuk BRAy Atilah Soeryadjaya sebagai penggagas ide, creative, sutradara dan kostum designer, juga Jay Subiakto sebagai penata artistik yang telah menghadirkan suatu tontonan yang telah memberikan tidak saja tampilan visual yang artistik dan menarik, tapi juga food for soul. Gw pulang dengan perasaan kaya, kaya bathin 😀

pictures courtesy of google and detik.foto